Cangkang Sawit, Masa Depan Energi Indonesia

Indonesia benar-benar bisa memanfaatkan biomassa, khususnya kulit batang sawit, limbah pabrik yang dihasilkan dari pengolahan minyak sawit mentah (CPO). Pasalnya, sampah ini sedang diburu oleh beberapa negara, seperti Jepang, China, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Polandia. Kulit pohon palem digunakan sebagai sumber tanaman bioenergi. Tak heran jika pengusaha nasional berlomba-lomba mengekspor limbah ini.

Melalui ekspor, pemerintah memperoleh keuntungan melalui nilai tukar. Nilai tukarnya melebihi US $ 250 juta per tahun. Kontribusi pajak, yang terdiri dari 7 USD pajak ekspor dan 15 USD sebagai pajak minyak sawit, mencapai USD 55 juta.

Namun di sisi lain, program pengembangan energi ramah lingkungan dengan menggunakan biomassa kelapa sawit diabaikan, dengan sedikit (tidak ada) insentif. Akankah sejarah gas alam terulang di cangkang sawit? Barang bagus (gas alam) dijual murah, lalu mereka beli barang jelek dan harganya selangit.

Sejarah eksportir

Cangkang Sawit, Masa Depan Energi Indonesia

Cangkang Sawit, Masa Depan Energi Indonesia

Pagi itu sangat panas. Meski jarum jam masih menunjuk ke angka 09. 30. Sejumlah buruh B / M di Bengkulu tampak sibuk dengan aktivitasnya. Ada yang membongkar barang dari kapal yang baru saja sandar. Ada juga yang mengantarkan barang ke kapal yang akan segera diberangkatkan. Ke titik tujuan.

Di pelabuhan juga ada seorang pria bertubuh besar dengan kaos kuning muda bergaris vertikal hitam dan lengan panjang serta celana panjang hitam. Ia memantau proses pengangkutan kerang dari telapak tangannya dengan mesin ke kapal. Kulit inti sawit, sisa pabrik dari pengolahan CPO, akan segera diekspor ke Polandia. Faktanya, hingga saat ini (15-20 tahun yang lalu), komoditas ini hanya dijadikan sebagai pengeras jalan.

Peneliti rupanya telah menyelidiki sekam kelapa sawit di negara itu sebagai primadona biomassa. Ini dihargai oleh banyak negara seperti Jepang, Cina, Taiwan dan Thailand sebagai sumber tanaman bioenergi.

Menurut Dikki Akhmar, presiden Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI) kepada Portonews, Senin (10/8/2020), setelah tragedi gempa bumi Fukushima 2011 di Jepang, pemerintah di Negeri Matahari Terbit telah melarang pembangkit listrik sejak tahun 2012. Listrik menggunakan reaktor nuklir. “Jepang mulai melirik biomassa kulit pohon palem sebagai sumber bioenergi,” kata Dikki, panggilan akrab Dikki Akhmar.

Keuntungan dari Palm Shell

Apa keuntungan dari biomassa inti sawit? Biomassa dengan nilai komersial paling efisien untuk menghasilkan energi bioenergi adalah kulit batang sawit. Pasalnya, selain hitung kalori tinggi, faktor logistik dan stok mudah membuat Jepang khawatir dengan biomassa Indonesia.

Selama ini, negara Sakura ini mengimpor sekitar 1,2 juta ton cangkang sawit per tahun. Dan ini meningkat karena jumlah tanaman bioenergi yang sedang dibangun terus bertambah dan bertambah. Sebagian bahan bakunya menggunakan 100% cangkang sawit, lainnya 30% dipadukan dengan wood pellet dan 70% cangkang sawit.

Hal lain yang membuat permintaan cangkang sawit di Jepang sangat tinggi karena adanya kebijakan pemerintah di sana, terutama METI (Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri). METI menggunakan cangkang sawit dalam tarif FIT sebagai biomassa. Masih mendapatkan insentif bagi perusahaan pembangkit energi yang menggunakan kulit kayu sawit sebagai bahan bakunya. Per kWh Anda mendapatkan insentif sekitar 1,5 yen.

Oleh karena itu, masuk akal bagi anggota APCASI untuk menyewa perusahaan pembangkit listrik di Jepang, biasanya kontrak jangka panjang. “Ada kontrak 15 tahun. Ada juga yang berusia 10 tahun, ”kata Dikki. Tentunya hal ini harus didukung oleh supply yang berkelanjutan dan harga yang berkelanjutan (stable fixed rate).

Biomassa kelapa sawit sebagai sumber pembangkit energi bioenergi tidak hanya diminati oleh Jepang, tetapi juga diminati oleh negara lain, seperti Taiwan, China dan Thailand. Di negeri seribu pagoda itu, tanaman biomassa inti sawit dimanfaatkan untuk industri pengolahan buah kaleng. Biomassa kelapa sawit ini juga menarik bagi Polandia.

Sebagai informasi, Indonesia saat ini menghasilkan 48 juta ton CPO per tahun. Saat dikonversi menjadi CPO, hanya 23% sawit yang berbuah. Dan kulit inti sawit mewakili 5 sampai 6% dari total buah sawit, sehingga produksi inti sawit di Indonesia mencapai sekitar 10 juta setahun.

Source : Palm Kernel Shell

This entry was posted in Bisnis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply